DARI BERANDA PUSTAKA JAYA #4: Buku Saduran Pertama
Kisah Djudar Bersaudara karya Mochtar Lubis terbut tahun 1971 menjadi buku saduran pertama yang diterbitkan Pustaka Jaya.

Hafidz Azhar
Penulis esai, sejak September 2023 pengajar di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Universitas Pasundan (Unpas), Bandung
8 Maret 2026
BandungBergerak.id – Kalau saya tidak keliru, buku tipis nan mungil berjudul Kisah Djudar Bersaudara karya Mochtar Lubis adalah saduran pertama yang diterbitkan Pustaka Jaya. Tebalnya 60 halaman. Buku ini bernomor seri PJ 012 dan juga termasuk generasi awal yang terbit tahun 1971. Dengan corak klasik, buku ini menampilkan sekawanan orang pada sampul disertasi beberapa gambar ilustrasi pada bagian isi. Terdapat keterangan bahwa buku tersebut disadur dari Kisah Seribu Satu Malam. Karya aslinya beragam versi, bahkan ada juga yang diadaptasi menjadi serial animasi.
Bagi anak-anak yang tumbuh tahun 1990-an, kisah Aladdin dan Lampu Ajaib pernah bertengger di layar kaca. Dulu, film ini bisa ditonton saban satu minggu sekali dan menampilkan aspek visual yang ikonik. Tokoh Aladdin dalam film itu digambarkan dengan sosok lelaki yang kerap mengenakan peci kecil di kepalanya. Ia tidak mengenakan kaos ataupun kemeja, melainkan potongan pakaian tanpa lengan seperti rompi. Ia juga selalu memakai celana panjang putih yang agak mengembang.
Kisah Aladdin dengan visual seperti itu bukanlah cerita yang tunggal dari satu penulis. Konon, film ini merupakan bagian dari rangkaian cerita yang terhimpun dalam The Arabian Nights. Judul aslinya, Alfu al-Lailah wa al-Lailah. Kisah ini telah hadir sejak Abad Pertengahan dan banyak diadaptasi sampai ke dunia barat.
Di Indonesia naskah Alfu al-Lailah wa al-Lailah muncul dalam ragam cerita, termasuk Kisah Djudar Bersaudara. Ada pula terjemahan Kisah Seribu Satu Malam yang terbit tahun 1994 oleh penerbit Mizan. Naskah ini diambil dari Naskah Suriah pada abad keempat belas yang diterjemahkan Husain Haddawy, lalu disunting oleh Muhsin Mahdi.
Dari sekian banyak cerita yang diadopsi, Kisah Djudar Bersaudara menaruh pesan moral yang kuat. Di samping disisipi nuansa tradisional, kisahnya menonjolkan aspek magis yang berkelindan dengan unsur spiritual. Alkisah, Djudar mempunyai dua saudara laki-laki, tersebutlah Salim dan Silim. Kedua orang itu merupakan saudara kandung Djudar yang lebih tua. Ayahnya seorang saudagar kaya yang merasa khawatir terhadap Djudar. Ini karena anak bungsunya tersebut sering mendapat perlakuan diskriminatif dari kedua kakaknya. Suatu saat ayahnya berwasiat jika semua hartanya diberikan kepada tiga anak beserta istrinya. Masing-masing dari mereka mendapat seperempat bagian.
Setelah ayahnya mati, Salim dan Silim lalu mengadu kepada hakim. Mereka tidak puas dengan harta yang diberikan kepada Djudar. Berkali-kali hakim menolak protes itu. Hingga uang mereka habis untuk biaya tuntutan tersebut. Niat jahat pun muncul. Salim dan Silim kemudian mendatangi ibunya. Semua harta ibunya dirampas oleh kakak beradik itu. Lantas sang Ibu pergi menemui Djudar sambil mengutuk perlakuan kedua anaknya.
Sifat tamak Salim dan Silim tergambar sangat dominan. Selain itu terdapat pula unsur moral yang ditunjukkan dalam kisah ini yang berkutat pada kerendahan hati Djudar sebagai tokoh utama. Saat dua kakaknya membuat harta sang ibu terkuras, Djudar masih menerima mereka tanpa rasa kebencian. Ini terjadi ketika kedua kakaknya itu jatuh miskin, sehingga mereka mendatangi adiknya dengan berpura-pura menunjukkan penyesalan. Djudar pun menyambut kedua kakaknya itu dan mempersilakan mereka untuk tinggal bersama dalam kondisi kekurangan.
Aspek magis yang tergambar dalam kisah ini tersaji pada sebuah pertemuan antara Djudar dengan orang Afrika yang kaya. Pertemuan itu membawa Djudar pada pencarian sebuah harta karun berupa buku kuna yang dianggap satu-satunya di dunia. Konon, buku itu menyimpan berbagai rahasia dan benda yang sangat berharga, termasuk kekuatan magis dari kalangan jin. Singkat cerita, Djudar dan orang Afrika itu memulai perjalanannya menuju Kota Fez dan Meknes untuk membuka harta karun yang menyimpan ragam misteri, sampai akhirnya Djudar pulang memikul banyak keajaiban.
Baca Juga: DARI BERANDA PUSTAKA JAYA #1: Pertemuan Awal
DARI BERANDA PUSTAKA JAYA #2: Buku Terbitan Pertama
DARI BERANDA PUSTAKA JAYA #3: Jejak Awal Sastra Anak Modern Indonesia
Beberapa buku saduran
Selain Kisah Djudar Bersaudara karya Mochtar Lubis, terdapat beberapa saduran lain yang menjadi generasi awal Pustaka Jaya. Sebut saja, Petualangan Baron von Munchhausen (1971), Mentjari Harta Karun (1971), dan Perjalanan Marco Polo (1971). Ketiga buku ini dikisahkan ulang oleh Sri MS, meskipun salah satunya tidak disebutkan nama penulis asli. Misalnya, dalam buku Mentjari Harta Karun nama R.L. Stevenson tampak di bagian depan kover. Begitu juga dengan Perjalanan Marco Polo, nama Louis Andrews Kent tercantum di bagian kover sebagai penulis. Hal ini tidak termasuk pada buku Petualangan Baron von Munchhausen. Pada sampul depan buku itu hanya menampilkan nama Sri MS selaku penyadur tanpa mencantumkan penulis asli seperti kedua buku lainnya.
Tentu saja, bila dilacak, Petualangan Baron von Munchhausen hampir mirip dengan Kisah Seribu Satu Malam dengan beragam versi yang banyak diadaptasi. Tetapi, sayangnya, tidak ada keterangan dari mana saduran karya Mochtar Lubis itu berasal. Dalam Petualangan Baron von Munchhausen disebutkan bahwa cerita aslinya berasal dari bahasa Jerman. Meski demikian buku klasik itu disadur dari bahasa Belanda oleh penerbit Pustaka Jaya. Begitupun dengan Perjalanan Marco Polo, pada bagian kolofon memuat keterangan bahwa buku ini dikisahkan kembali dari bahasa Belanda dengan judul asli He Went with Marco Polo. Berbeda dengan Mentjari Harta Karun, buku ini disadur langsung dari versi bahasa Inggris dengan judul Treasure Island karya Robert Louis Stevenson.
Karya Prosa dalam Pustaka Jaya
Selain Kisah Djudar Bersaudara, karya Mochtar Lubis yang diterbitkan Pustaka Jaya, yaitu Dua Belas Puteri yang Menari (1977). Buku ini merupakan kisah saduran yang memuat lima cerita pendek bernuansa anak. Ada juga kisah petualangan di hutan berjudul Penyamun dalam Rimba yang terbit tahun 1972, dilanjutkan oleh Berkelana dalam Rimba yang terbit tahun 1980.
Karya Mochtar Lubis berbentuk prosa memang banyak diterbitkan Pustaka Jaya. Selain saduran dan cerita anak, terdapat sejumlah karya Mochtar Lubis lainnya yang kelak diterbitkan ulang oleh Pustaka Obor Indonesia. Sebut saja di antaranya, Senja di Jakarta, Tanah Gersang, Harimau-Harimau, Maut dan Cinta, dan Jalan tak Ada Ujung. Beberapa prosa ini telah menambah deretan karya menarik dalam khazanah kesusastraan Indonesia. Salah satunya Jalan tak Ada Ujung yang berhasil dialihwahanakan menjadi film.
Untuk Kisah Djudar Bersaudara sendiri, rupanya telah menarik perhatian para pembaca. Buku ini berhasil dicetak sampai cetakan ketiga tahun 1976 dengan rancangan kover dan ejaan yang berbeda.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

